Towards Remote Working and Virtual Team

Millennials Rising

Teknologi sejauh ini telah mengubah dimensi dan model bisnis menjadi lebih konvergen. Bagi pelaku bisnis profesional bahkan perseorangan, remote working bukan lagi sebuah impian dalam bekerja, melainkan telah menjadi sebuah kebutuhan nyata.

Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Kominfo pada 2019, peningkatan penetrasi jaringan broadband 10% akan mempengaruhi pertumbuhan PDB negara hingga 1.38%. 1

Sedangkan dalam sebuah survei global 2017 terhadap lebih dari 24.000 pekerja, 62% populasi pekerja sekarang bekerja secara fleksibel. 98% diantaranya mengaku bahwa kerja remote membuat mereka lebih produktif. 2

Saya yakin tren ini akan semakin meningkat seiring semakin banyaknya perusahaan yang memulai transformasi digitalnya. 3

“Someday, there will be many people work in remote areas, but they connected internationally cause of advancement on information and telecommunication technology.” Alvin Toffler (Future Shock)

Tumbuhnya industri kreatif, pemanfaatan teknologi serta transfromasi digital mendorong konsep bekerja yang tidak terikat pada place dan space secara fisik.

Konsep working life balance pun kian tidak relevan karena definisi “seimbang” yang dimaksud di era digital kadang terlalu utopis.

Dunia kerja mengukur prestasi dan achievement karyawan dari angka-angka produktifitas dan kepuasan klien yang begitu beragam dengan “paksaan” bekerja hanya dari jam 8 pagi hingga pukul 5 sore.

Para teknisi jaringan atau server engineer misalnya, biasanya harus bekerja 24 jam selama 7 hari. Selain bekerja office hours di ruang kantor, mereka juga harus bersiap me-remote pekerjaan dari rumah, dari tempat mana saja dan kapan saja. Stand on call untuk menjadi laki-laki “panggilan”.

Maka kini kita mulai mengenal konsep flexibility work. Bekerja dengan prinsip otonom, “together but alone” dalam cell-cell group yang kecil, didorong oleh value dan purpose, serta diikat dengan semangat kolaborasi dan solusi.

Tak heran jika nanti akan muncul individu-individu profesional yang tinggal di desa-desa, bekerja secara remote, mengelola virtual team, dan membesarkan komunitas daerahnya menjadi kekuatan ekonomi baru.

Once remote works really becomes the norm, it’ll just be called work

Remote working dapat mempersempit kesenjangan pekerjaan di kota dan di daerah dengan menyediakan peluang pekerjaan yang dapat diandalkan bagi orang-orang yang tidak tinggal dekat dengan pusat perekonomian. 4

Spending di desa dan kota-kota kecil akan semakin bertambah karena penduduk produktifnya tidak hijrah ke kota besar. Di sisi lain, mereka bisa saling berbagi ilmu, berkontribusi membangun potensi di masing-masing daerahnya.

Menarik bukan?

John Doerr menulis buku yang cukup mencerahkan: Measure What Matters, How Google, Bono, and the Gates Foundation Rock the World with OKRs. Dengan OKR (Objective Key Result), sebuah team dapat bekerja dengan parameter goals yang simple namun terukur impact-nya.

Kita layak menata ulang. Apakah harus terus ditempuh berlelah-lelah menembus macet dan kepayahan pergi ke kantor (khusus yang bekerja di kota-kota besar) untuk sekedar agar bisa memenuhi standar office hours.

Meskipun terkadang justru menghabiskan resource energi dan pikiran, sedangkan kondisinya tidak selalu menghasilkan kontribusi yang lebih baik dibanding saat karyawan bisa diberi kelonggaran bekerja di tempat-tempat yang mereka bisa mudah capai, enjoy, menyenangkan dan membuat mereka happy?

Titik tekannya adalah kontribusi.

Kantor sebagai place tak lagi menjadi pakem. Kantor kini lebih tepat menjadi space, menjadi ruang berkarya dan berkontribusi meski tak harus dalam satu tempat yang sama. Kantor bukan lagi tempat untuk datang, berkumpul lalu pergi lagi tanpa makna.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Seno Gumira Ajidarma (Menjadi Tua di Jakarta)

Kalau pun pada akhirnya manajemen selalu mengukur pada result base; tercapai atau tidak tercapainya sebuah angka tetapan di awal (tahun) maka mestinya soal berkantor di mana, durasi jam kerja “eight to seventeen behind the desk on the cubicle” tak lagi menjadi patokan dan standar baku.

Selama ukuran kontribusi dan proses bekerjanya terukur dan dapat dinilai, khusus bagi posisi dan scope of work-nya tidak berhubungan dengan meja pelayanan publik atau konsumen secara langsung, maka bekerja dengan atribut yang tidak terlalu mengikat, bekerja dengan konsep less rules - simple rules 5 akan membuat karyawan mampu menjaga kreatifitas, semangat dan antusiasmenya.

Your company need your PRESENCE, more than your PRESENT.

Tumbuhnya industri kreatif serta transformasi digital mendorong konsep bekerja yang tidak terikat pada place dan space secara fisik.
Towards Remote Working and Virtual Team

Referensi:

  1. Puslitbang SDPPI. (2019). Studi Percepatan Penetrasi Akses Fixed Broadband: Potret Karakteristik Wilayah dan Profit Demand Masyarakat Terhadap Internet Fixed Broadband. Diakses dari balitbangsdm.kominfo.go.id pada 21 Februari 2020. ↩︎

  2. Polycom: Global survey of 24,000+ workers unearths the ‘need’ for flexibility in the workplace in order for businesses to thrive ↩︎

  3. Toptal.com - The History of Remote Work (Infographic)  ↩︎

  4. Sutton, Sarah. (2019). Why Remote Work Can Help Bridge the Hiring Gap, Especially for Rural Professionals. Diakses dari entrepreneur.com pada 22 Februari 2020. ↩︎

  5. Sull, Donald. Kathleen M.. (2012). Simple Rules for a Complex World - Harvard Bussiness Review. Diakses dari hbr.org pada 22 Februari 2020. ↩︎