The Science of Getting Rich

∙ Making of a Millionaire 💰

Aku masih ingat betul apa yang dikatakan orang-orang dewasa dahulu, “Nanti, kalau kamu sudah besar nggak perlu jadi orang kaya. Jadi orang cukup saja, nrimo apa adanya. Orang kaya itu banyak musuhnya. Belum lagi nanti kalau di akhirat, hisabnya lama..”

Tidak berhenti sampai disitu, “Kekayaan itu sumber kejahatan. Dekat dengan kesombongan. Nggak segan melakukan kecurangan demi kekayaan yang lebih banyak lagi.”

Pernyataan itu ditutup dengan pertanyaan retoris yang bikin skakmat, “Emangnya kamu mau jadi penjahat?” tentu saja demi alasan keamanan aku spontan menjawab, “Ngga mau.”

Penyebab beredarnya stigma bahwa menjadi kaya berarti 90% akan terjerumus pada kejahatan-kejahatan aku tidak begitu tahu. Entah karena pengalaman masa lalu atau infiltrasi dari sinetron yang setiap hari menampilkan orang kaya dengan peran antagonis. ¯\_(ツ)_/¯

Inilah 11 Pemeran Antagonis yang Ekspresinya Sama Kalau Kamu Mergokin Pacarmu Lagi Kepoin Mantannya Sumber: Hipwee

Lalu, bagaimana sisanya yang 10% itu? Katanya hanya orang-orang terpilih saja yang mampu bertahan. Dengan kata lain, kita dianggap tidak akan mampu, bukan begitu?

Tidak bisa kupungkiri bahwa ada orang kaya yang jahat itu memang benar adanya. Tapi kita harus ingat, dunia itu berada dalam keseimbangan yang rawan. Dalam arti, orang kaya yang baik juga senantiasa berdiri di sisi berlawanan.

Nah, cukup basa-basinya. Biarkan pak Wallace D. Wattles yang menjelaskan lebih lanjut berdasarkan buku fenomenalnya, The Science of Getting Rich.

The Science of Getting Rich The Science of Getting Rich by Wallace D. Wattles

• • •

Halo!

Ini pak Wallace. Kamu bisa memanggilku demikian. Terima kasih telah memberiku kesempatan membahas hal yang banyak orang salah kaprah tentangnya. Dan sekarang, tugas ini aku ambil alih.

Konsep kekayaan yang akan aku jabarkan ini adalah ilmu pasti, matematis, dan rasional, sehingga siapa pun yang meyakini dan mengikuti langkah ini dengan benar dapat dipastikan akan kaya.

Omong-omong, siapa diantara kalian yang masih menganggap kalau toh hidup tidak akan bermasalah sekali pun kita tidak kaya? Atau anggapan apakah jika kita terlahir miskin, kita tidak akan punya kesempatan untuk menjadi kaya?

Simpan pertanyaanmu anak-anak. Biar aku beri sedikit pencerahan.

Hak Menjadi Kaya

Betapa pun kemiskinan dibungkus rapi dengan kata-kata yang mengharukan atau pujian, faktanya hidup ini tidak mungkin memuaskan dan dikatakan sukses jika seseorang tidak memiliki kekayaan.

Tak seorang pun mampu menggapai potensi terbaik atau mencapai pemenuhan kebutuhan jiwa tertingginya jika dia tidak memiliki cukup banyak uang. Sebab, untuk mengembangkan jiwa dan potensinya seseorang butuh banyak sekali barang-barang, alat-alat atau jasa yang mempermudah kehidupannya.

Dia tidak mungkin bisa menggunakan berbagai alat yang dibutuhkannya itu jika tidak punya uang untuk membelinya lalu menggunakanya. Dan masyarakat kita telah teroganisir sedemikian rupa dalam sistem sosial dan ekonomi tertentu, sehingga siapa pun harus membayarkan sejumlah uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya tersebut.

Menjadi kaya yang sejati tidak bisa diartikan berpuas diri tatkala hanya memiliki sedikit uang. Sesungguhnya, tak seorang pun benar-benar mau menerima kemiskinan jikalau bisa menikmati sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak lagi. Karena kodrat hidup manusia sejatinya adalah untuk meraih kemajuan, keberhasilan dan mengembangkan hidup sepenuh-penuhnya.

Setiap orang sejatinya memiliki kekuasaan, kemakmuran, kehidupan yang menyenangkan dan juga kekayaan di dalam dirinya. Jadi, memilih atau membiarkan diri hidup dalam kemiskinan sesungguhnya merupakan sebuah dosa dan menyalahi kodrat manusia.

Orang kaya adalah yang mampu memenuhi semua yang dia inginkan (butuhkan) dan bisa menikmati hidupnya dalam arti sepenuh-penuhnya. Dan tak seorang pun bisa mendapatkannya jika tidak memiliki banyak uang.

Secara alamiah, setiap orang pasti ingin berhasil dan kaya sebagaimana dia pikir dirinya mampu menjangkau hal tersebut. Dorongan untuk mewujudkan kemungkinan itu saja sudah merupakan hakekat keberadaannya. Hakekat itu sudah melekat sejak lahir yang tidak terpisahkan.

Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi kaya. Dorongan memiliki kekayaan berarti hasrat untuk menjadi lebih makmur, lebih terpenuhi segala kebutuhan hidup dan lebih berkelimpahan. Hasrat menjadi kaya itu patut mendapat penghargaan. Justru hasrat kebalikannya adalah abnormal.

Setidaknya, hidup kita ini didasari oleh tiga motif; tubuh, pikiran, dan jiwa. Tak satu pun dari ketiganya lebih baik atau lebih tinggi tingkatannya. Ketiganya sama-sama penting dan bernilai. Apapun kamuflasenya, seseorang tak akan bisa merasa benar-benar puas dan bahagia kecuali tubuhnya dalam keadaan sehat wal afiat demikian pula fungsi pikiran maupun keadaan jiwanya.

Maksudku begini,

Tubuh kita haruslah tercukupi dengan makanan yang bergizi baik, pakaian yang layak, rumah sebagai hunian, dan terbebas dari kerja yang berlebihan.

Lalu, sebagai makhluk berakal budi, kita harus memiliki kesempatan untuk rekreasi secara intelektual. Seperti menikmati seni dan keindahan alam, serta memberi apresiasinya atas obyek-obyek tersebut. Juga membaca buku-buku yang mengasah pikiran kita.

Supaya hidup berkepenuhan, seseorang harus memiliki cinta dalam jiwanya. Melayani Tuhan dan manusia lainnya dengan bebas tanpa takut terhalang apapun.

Jadi, sudah merupakan kebutuhan dan kebenaran hakiki manakala setiap orang menginginkan menjadi kaya.

Ilmu Menjadi Kaya

Benar bahwa menjadi kaya itu ada ilmunya. Ilmu yang dimaksud di sini merupakan ilmu pasti. Karena ada hukum-hukum yang berlaku pasti untuk mengendalikan proses mendapat harta kekayaan.

Harta kekayaan dan berbagai bentuk kepemilikan lainnya berasal dari tindakan dan usaha-usaha tertentu yang benar dan tepat sasaran. Barangsiapa melakukan sesuatu di Jalan yang Tepat —baik berdasarkan tujuan tertentu atau kebetulan— pasti akan menjadi kaya. Sementara yang tidak melakukan sesuatu di Jalan yang Tepat pasti tetap melarat.

Sudah menjadi hukum alam bahwa sebab-sebab tertentu selalu menghasilkan akibat-akibat tertentu pula.

Pernyataan yang tadi aku sampaikan benar dan dibuktikan oleh fakta-fakta berikut:

Menjadi kaya bukanlah persoalan lingkungan sekitar. Sebab, jika memang demikian, maka semua orang di dalam suatu tempat tinggal tertentu pastilah sama makmur dan kayanya. Sementara yang di luar itu pasti miskin.

Tapi, pada kenyataannya, di mana-mana kita saksikan orang kaya dan orang miskin hidup berdampingan. Dalam sebuah lingkungan, kelompok masyarakat bahkan seringkali dalam lapangan pekerjaan yang sama.

Manakala dua orang tinggal di lokasi dan menjalankan bisnis yang sama, sementara yang satu kaya dan berhasil sedang satunya lagi tetap saja miskin, pasti itu karena menjadi kaya bukanlah persoalan tempat tinggal semata.

Lagi, kemampuan melakukan sesuatu dengan benar dan tepat tidaklah semata-mata tergantung pada kepemilikan bakat tertentu. Sebab, banyak juga orang-orang yang tidak memiliki keistimewaan tertentu ternyata mampu menjadi kaya.

Biarkan aku bertanya kepada kalian. Apakah sesuatu yang dilakukan di Jalan yang Tepat itu begitu sulitnya sehingga hanya sedikit orang yang bisa melakukannya?

Jawabannya adalah tidak sulit! Sepanjang kemampuan-kemampuan alamiah manusia dimanfaatkan dengan optimal.

Orang berbakat bisa kaya, tetapi yang tak punya bakat pun bisa menjadi kaya. Orang dengan intelektualitas tinggi bisa menjadi kaya, tetapi orang bodoh pun juga bisa menjadi kaya. Orang sehat dan kuat bisa menjadi kaya, sementara orang lemah dan sakit-sakitan juga bisa menjadi kaya.

Tentu saja, dalam kadar tertentu kemampuan berpikir dan memahami itu penting.

Ini bukan persoalan memilih bidang bisnis atau jenis profesi tertentu seperti apa. Orang bisa menjadi kaya di segala macam bisnis atau profesi yang ditekuninya, sementara tetangga sebelah yang menekuni bidang sama bisa jadi tetap tidak pernah berhasil dan dirudung kemiskinan.

Memang benar, kita mungkin mengerahkan kinerja terbaik manakala menjalankan suatu jenis bisnis yang benar-benar cocok dan disukai. Dan jika kita mempunyai bakat yang mampu dikembangkan dengan baik pula, maka kita akan cendrung menghasilkan bisnis yang berhasil. Terutama sekali jika bisnis tersebut memang menuntut penggunaan kelebihan bakat-bakat kita.

Kita juga berkemungkinan sukses dalam bisnis yang sesuai dengan kondisi lokasinya. Contoh ekstrimnya, menjual es krim di tempat beriklim panas.

Tetapi ingat, generalisasi semacam itu sangat terbatas berlakunya. Menjadi kaya tidaklah tergantung semata pada apa macam bisnis yang kita jalankan.

Aku beri contoh lagi,

Bayangkan kamu menjalankan bisnis restoran di sebuah lokasi. Ditempat itu, ada juga orang lain dengan bisnis yang sama persis. Namun, setelah berusaha keras bertahun-tahun ternyata kamu tetap tidak berhasil, tidak bisa menjadi kaya. Malah cenderung bangkrut.

Sementara, pesaingmu justru sukses dan kaya dalam waktu relatif singkat. Pastilah itu bukan karena jenis bisnis restoran dan lokasinya, bukan? Tetapi disebabkan kamu tidak mengerjakan segala sesuatunya seperti yang dijalankan oleh pesaingmu.

Tak seorang pun dihalang-halangi menjadi kaya hanya karena dia miskin atau kurang modal. Memang benar kalau kita punya modal maka bisnis pun akan lebih mudah dijalankan dan potensi berkembangnya juga lebih cepat. Namun, orang yang punya modal biasanya memang sudah kaya sebelumnya sehingga dia tidak pusing berpikir bagaimana caranya mejadi kaya. Tak peduli betapa pun seseorang itu miskin, jika kita mulai mengerjakan sesuatu di Jalan yang Tepat, maka kita akan mulai mendapatkan modal dan kekayaan.

Aku ingatkan sekali lagi, anak-anak. Sebab-sebab tertentu menghasilkan akibat-akibat tertentu pula. Jika tidak punya modal, kamu akan mendapat modal. Jika kamu terkungkung di bisnis yang salah, kamu pun bisa mendapatkan bisnis yang tepat dan menguntukan. Jika kamu berada di lokasi yang salah, kamu dapat pergi ke lokasi yang lebih menguntungkan.

Nah, bisnis yang sekarang dan di lokasi yang kamu mulai saat ini bisa kamu gerakkan ke Jalan yang Tepat, yang selama ini terbukti mampu mendatangkan keberhasilan.

Catat ini baik-baik,

Kamu harus mulai melangkah secara harmonis dengan hukum-hukum keberhasilan yang berlaku universal.

Baiklah, ku pikir dua hal dulu yang dapat kusampaikan. Masih ada hal lain yang harus kuberi tau agar kamu menjadi kaya. Tetapi waktu kita terbatas. Jadi, kita cukupkan dulu sampai sini. Kabari aku secepatnya kalau kamu ingin tau lebih banyak perihal memperoleh kekayaan.