Pilihan Instrumen Investasi di Indonesia

FINANCIAL 14 min read ★

Banyak orang ketika mendengar istilah investasi, yang terbayang di pikiran mereka sesuatu yang canggih, yang memerlukan banyak uang, pengetahuan yang dalam, dan segudang pengalaman.

Jika investasi diartikan seperti itu, artinya financial freedom atau kebebasan finansial hanyalah milik segelintir orang yang punya modal saja dong? Hanya untuk segelintir orang yang pintar saja dong? Apakah benar begitu?

Sudah lama saya ingin membahas mengenai ini. Investasi dengan tujuan untuk mencapai kebebasan finansial tidak selalu harus dihubungkan dengan saham, properti, atau bisnis yang canggih-canggih.

Sebenarnya ada beberapa pilihan instrumen investasi yang bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, tentu dengan gain & risk-nya masing-masing.

Menurut saya, investasi itu tujuannya menjaga nilai uang kita agar tidak termakan inflasi. Sedangkan kalau mau jadi kaya barulah ber-spekulasi. Tapi sebenarnya investasi dan spekulasi itu seperti sebuah spektrum, gak bisa dibedakan secara jelas.

Di Indonesia sendiri, kita bisa membagi produk investasi ini menjadi 3,

  1. Utang (tabungan, deposito, surat utang negara, reksadana pasar uang, p2p lending)
  2. Jual beli (emas, saham, index fund, properti)
  3. Dividen

Sebelum Mulai Berinvestasi

Sebelum melakukan sebuah investasi, ada baiknya kita penuhin beberapa persyaratan yaitu:

  1. Investasikan sejumlah uang yang kita mampu dan kita relakan untuk hilang. Jangan investasi melebihi kemampuan finansial dan mental kita.

  2. Jangan pake uang sehari hari!

    Di sini pentingnya budgeting sehari hari, biar kita tau sebenarnya kita habis berapa sih setiap bulannya dan butuhnya berapa setiap bulan. Konsep budgeting ntar dibahas di kesempatan lain aja ya..

  3. Punya minimal 3 bulan tabungan buat hidup nyaman. Nyaman ya, bukan foya-foya. Bikinlah 2 tabungan, satu tabungan isinya biaya hidup tiga bulan, satu lagi isinya biaya hidup bulan ini. Sisa uang baru diinvestasikan di instrumen berdasarkan resiko yang mau diambil.

  4. Jangan investasi di satu tempat atau malah hedging kalau mau aman.

    Hedging itu konsep lindung nilai. Misalnya kita tahu bahwa harga emas dan USD itu selalu berlawanan, jadi kita bisa beli emas dan USD. Kalau satu instrumen turun yang lain naik dan begitu sebaliknya, nilai uang kita relatif terjaga. Namun kalau pake teknik hedging, gain yang diperoleh cenderung kecil.

  5. Saran buat yang baru mulai, cobalah untuk memulai dari yang resikonya paling rendah. Kalau ada uang lagi baru lanjut ke investment yang resikonya lebih tinggi. Jadi sekalian bagi-bagi resikonya gitu, ga satu gagal trus gagal semua..

Pahami Resikonya

Semua investasi pasti memiliki resiko. Ada instrumen yang memiliki resiko rendah seperti tabungan, hingga resiko tinggi seperti saham. Yang perlu kalian pelajari dalam investasi ini adalah cara untuk mengatur instrumen sesuai dengan keadaan keuangan dan tingkat resiko yang ada.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah tingkat likuiditas instrument investasi tersebut. Secara sederhana, pengertian likuiditas adalah seberapa mudah kita bisa mencairkan atau menjual kembali produk investasi tersebut.

Sebagai contoh, investasi emas umumnya lebih mudah dijual kembali dibanding investasi rumah. Hal ini biasanya menjadi penting ketika menghadapi keadaan finansial yang tidak terduga dan membutuhkan dana dalam jumlah besar dan singkat.

Setelah semuanya terpenuhi, selanjutnya akan kita bahas mulai dari instrumen yang paling aman ke yang paling beresiko.

Macam Instrumen Investasi

Feel free to chime in or correct me.. 🥂

• • •

1. Tabungan

Tabungan bisa dikatakan sebagai instrumen paling aman dalam dunia investasi. Investasi dengan resiko terkecil ini dijamin sama LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Jadi kalau misalnya bank-nya bangkrut, uang kita akan diganti oleh LPS (selama tabungan masih di bawah 2 miliar).

Cuma malesnya adalah return yang ditawarkan sangat kecil, jadi tabungan lebih baik untuk nempatin biaya hidup sehari hari aja. Itu pun tabungan yang bunganya cukup baik sekarang cuma Jenius (BTPN) dan Digibank (DBS). Mereka cukup cepat mengikuti suku bunga acuan BI.

Suku bunga BCA cuma 1.35% itupun harus nabung diatas 1 miliar 1. Sedangkan di Jenius nawarin 5% tanpa saldo minimum 2.

Perlu kalian ketahui juga, bunga tabungan kena pajak 20%. Kalau dari bank menawarkan bunga 5%, yang kita dapat sebenarnya cuma 4%.

Gain : 5%

Risk : almost no risk selama dijamin LPS dan negara gak bubar

Tidak ada jangka waktu

2. Deposito

Deposito juga termasuk aman, karena dijamin sama LPS. Bunganya lebih tinggi dari tabungan, tapi tidak bisa ditarik sewaktu-waktu. Jadi harus habis tenor dulu baru bisa ditarik. Kalau ditarik sebelum tenor habis biasanya kena denda.

Ada dua produk pilihan yang bisa dipake untuk deposito yang cukup tinggi bunganya, Jenius (BTPN) sama Digibank (DBS). Digibank bunganya lebih tinggi sekitar 2% tapi kena denda kalau tarik tiba-tiba, sedangkan Jenius gak ada dendanya kalau tarik tiba-tiba tapi gak dapet bunga.

Saran saya, kalau belum yakin sama budgeting bulanan mending pakai Jenius, kalau sudah yakin silahkan pake Digibank.

Untuk masuk deposito ntar ada 3 jenis kontrak, yaitu non-ARO, ARO dan ARO plus.

  • Non ARO itu selesai kontrak, uang pokok dan bunga dibalikin.
  • ARO itu selesai kontrak langsung diperpanjang lagi dengan uang pokok. Bunga di transfer.
  • ARO plus itu selesai kontrak langsung diperpanjang lagi dengan uang pokok + bunga, jadi gak ada yang ditransfer ke kita. Tapi ini tipe kontrak yang paling powerfull karena bunga kita berbunga lagi terus dan terus hehe..

Sama seperti tabungan, bunga deposito kena pajak 20%, jadi kalau dibilang bunga 5% sebenarnya yang kita dapet 4%.

Gain : sekitar 6% +

Risk : almost no risk selama dijamin LPS, negara gk bubar atau tiba tiba ada keperluan mendadak :(

Jangka waktu optimal: bulanan - tahunan

Likuiditas : gampang dicairkan

*Tambahan: Untuk deposito online, kalian bisa coba di internet banking BNI (minimal 10 juta), bunganya bisa cek di website BNI (kalo ga salah sekitar 4-5% skrg). Bisa dicairkan kapan saja di jam kerja, ga kena penalti tapi jadi ga dapat bunga. Ini deposito online bahkan udah ada dari 2013-an klo ga salah. CMIIW..

3. Emas

Emas menurut saya sih tidak terlalu aman karena bergantung sama persepsi orang terhadap emas. Harganya pun tidak selalu naik karena biasanya emas naik saat keadaan geo-politik atau saham sedang memburuk.

Nah untuk emas ada 3 cara yang viable untuk di Indonesia:

  • Emas batangan

    Kalau mau coba cara ini, usahakan beli yang bersertifikat antam. Pembelian bisa di butik emas antam atau di penggadaian.

    Kelemahan cara ini ada di harga sertifikat. Misalnya kita beli emas antam 1 gr harganya 600 ribu, nanti kena biaya sertifikat 100 ribu. Jadi biaya sertifikatnya udah 15% dari harga emas. Ini ngerugiin banget kalau belinya kecil-kecil. Untuk emas batangan tidak disarankan untuk investor kecil.

  • Pakai proxy

    Proxy disini maksudnya instrumen yang harganya punya korelasi yang tinggi sama emas. Sejauh ini yang saya lihat korelasinya tinggi sama harga emas itu CHF (Swiss Franc - mata uang Swiss) dan AUD (Dollar Australia).

    Kelebihannya kita gak kena biaya sertifikat antam dan masih bisa menikmati kenaikan harga emas (kalau naik).

    Sedangkan kekurangannya jadi ke-expose sama faktor lain, misalnya kebijakan bank sentral Swiss dan Australia, atau kalau kasusnya Australia ke-expose sama faktor cuaca, tambang dan ekonomi China.

Kalau mau beli tanpa sertifikat secara online bisa coba di Tokopedia, Bukaemas atau e-mas. Semuanya setauku belum direstui OJK jadi hati-hati yah..

Kelebihannya sama kayak pakai proxy jadi gak perlu bayar biaya sertifikat, tapi kekurangannya yah belum ada yang berizin.

Ada yang bilang beli saham ANTM (antam), tapi sejauh ini yang kulihat, harga saham ANTM tidak begitu berkorelasi sama harga emas.

Gain : lebih tinggi dari deposito.

Risk : hilang dimaling atau harga emas turun.

Jangka waktu optimal: tahunan

Likuiditas : gampang dicairkan

*Tambahan: Instrumen investasi emas sangat berpengaruh terhadap nilai tukar IDR-USD. Jika Rupiah sedang melemah dan harga emas di Indonesia naik, sebenarnya harga emasnya tetap, tetapi harganya naik karena faktor nilai tukar saja.

“Ilusi” ini penting buat dimengerti agar tidak salah kaprah. Dan selain biaya sertifikat jangan lupa masalah penyimpanan. Jika jumlah banyak mungkin perlu SDB (Safe Deposit Box) yang tentu saja bakal makan biaya lagi.

4. Mata Uang Asing

Ada dua cara untuk berinvestasi dalam mata uang asing, bisa menabung atau spekulasi.

Kalau menabung biasanya orang-orang yah ke money changer atau buka tabungan mata uang asing.. :)

Kelebihannya nyimpen di mata uang asing itu biasanya inflasi di negara maju lebih rendah dibanding di Indonesia. Jadi nilai mata uang asing tergerusnya lebih sedikit dibanding rupiah.

Kalau mau berspekulasi biasanya orang buka akun di broker online. Kalian bisa coba cari broker yang ECN dan diregulasi sama otoritas setempat.

Gain : variatif, bisa lebih tinggi dari deposito dan emas, bisa juga lebih rendah

Risk : kekacauan geopolitik, kebijakan moneter dan fiskal negara yang bersangkutan.

Jangka waktu optimal: tahunan

Likuiditas : gampang dicairkan

*Tambahan: Meskipun inflasi setiap negara berbeda dimana Indonesia cenderung inflasi-nya lebih tinggi, sebenarnya nilai tukar sudah memperhitungkan perbedaan inflasi ini. Jadi lebih berpengaruh dari faktor-faktor lainnya.

Put it another way, kalau ngak mending investasi di Indo saja karena deposito rupiah bisa 5-7% sementara kalau di Singapore hanya 2%.

5. Surat Utang Negara

Intrumen ini intinya kita minjemin uang ke negara, uang ini nantinya dipakai sama negara untuk macam-macam.

Untuk surat utang negara ada dua cara untuk membelinya Pertama bisa beli langsung di bank atau sekuritas, atau bisa juga beli secara gak langsung melalui reksadana pasar uang.

Sejauh ini surat utang negara ada tiga jenis:

  • SBR (Saving Bond Retail)

    • SBR ini bunganya floating, artinya bunganya berubah-ubah sesuai suku bunga acuan BI tapi dijamin pasti sekian persen di atas bunga BI (tergantung kontrak).

    • Spesialnya SBR ini gak bisa dijual/diubah kepemilikannya. Jadi satu satunya cara untuk dapet untung dari SBR adalah dengan menerima bunga.

    • Lama kontrak SBR macam-macam tergantung serinya. Di beberapa seri SBR ada yang bisa dijual balik ke negara di pertengahan kontrak, ada juga yang enggak.

    • Pembelian SBR tergantung serinya biasanya sih di bank-bank besar, sekuritas, Investree, atau bareksa juga bisa. Kalau tidak salah, SBR ini kena pajaknya 15%.

  • ORI (Obligasi Retail Indonesia)

    • Pada umumnya bunganya tidak berubah ubah. Kepemilikan bisa diubah alias bisa dijual di pasar sekunder, tapi biasanya harganya jatuh banget.

    • Pembeliannya bisa di bank bank besar atau sekuritas. Biasanya kita bisa dapet harga murah kalau beli ORI di pasar sekunder lewat bank.

  • Sukuk

    Sama kayak ORI tapi syariah. Sukuk juga ada 2 jenis sukuk ritel dan sukuk tabungan negara. Bedanya yang sukuk ritel bisa diubah kepemilikannya. Sedangkan yang sukuk tabungan gak bisa. Bisa dianggap yang ritel kayak ORI, yang tabungan negara kayak SBR.

Gain : diatas deposito, tapi udah pasti (tidak seperti emas dan mata uang asing)

Risk : Resiko surat utang negara adalah kalau negaranya bubar dan gak mampu bayar.

Jangka waktu optimal: tahunan, tergantung kontrak

Likuiditas : tidak bisa dicairkan sembarangan.

6. Properti

Untuk investasi dalam bidang properti, yang harus diingat adalah pemilihan lokasi dan financing.

Jangan ambil KPR atau KPT, umumnya bunganya tinggi gak ketutup keuntungan jual propertinya. Tapi kalau misalnya belinya cash, bolehlah..

Beli properti itu harus pinter pinter milih, semacam bikin satu keputusan harus langsung bener, terus barrier-nya tinggi.

Gain : diatas atau sama dengan saham (katanya)

Risk : udah harus dijual pas butuh uang (banyak kejadian yang terpaksa jual NJOP), bayar pajak.

Jangka waktu optimal: puluhan tahun

Likuiditas : gak bisa dicairkan cepat, ada kali tahunan baru kejual.

7. Reksadana

Sebenarnya ini instrumen turunan, dalam artian reksadana itu cuma sekumpulan instrumen lain (surat utang, emas, mata uang asing) yang dikelola oleh seorang manajer investasi untuk kita.

Reksadana ini gak pasti untung, dan seorang manajer investasi juga dilarang OJK untuk menjamin pasti untung.

Diurutkan dari resiko terkecil ke terendah dan potensi untung terkecil ke terbesar:

  • Reksadana Pasar Uang (Money Market)

    Paling aman tapi paling kecil untungnya, biasanya si manajer investasi beli SBI, deposito, dll. daripada beli reksadana ini lebih baik beli deposito sendiri.

  • Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income)

    Isinya surat utang negara (yang kita bahas tadi) sama surat utang swasta.

  • Reksadana Campuran (Mixed Mutual Fund)

    Isinya es campur campur-campur~ Wkwk..

  • Reksadana Saham (Equity Fund) Isinya saham..

Reksadana ini ada fee jual dan beli biasanya juga ada penalti tambahan kalau dijual di bawah waktu tertentu.

Gain : tergantung instrumen basic-nya

Risk : tergantung instrumen basic-nya

Jangka waktu optimal : tahunan

Likuiditas : gampang dicairkan, tapi hati-hati biaya jual-belinya

Sejujurnya daripada reksadana aku lebih pilih langsung beli instrumen basic-nya. Kecuali kalau mau beli surat utang swasta, kayaknya susah untuk investor kecil, biasanya cuma bisa diakses lewat reksadana.

8. Peer-to-peer (P2P) Lending

P2P lending ini intinya kita meminjamkan utang ke orang lain baik untuk kegiatan konsumtif (travel, biaya rumah sakit, dll.) atau kegiatan produktif.

Konsumtif, umumnya sih dianggap punya tingkat gagal bayar yang lebih tinggi dari yang produktif, tapi bunganya juga lebih tinggi.

Kalau mau coba bisa ke Koinworks (ada pembiayaan pendidikan), Amartha (pendidikan rumah sakit), Danamas (biayain liburan orang yang pake traveloka paylater) atau Asetku (biayain kredit akulaku orang).

Untuk yang Asetku ini agak unik, dapet info dari temen yang kerja di sana, kalau orang yang track record-nya bagus dilempar semua ke Asetku dan gagal bayar mereka suprisingly sangat rendah.

Untuk yang produktif ada dua jenis, pembiayaan modal usaha sama pembiayaan invoicing. Kalau yang modal usaha bisa coba Koinworks, Amartha. Sedangkan kalau yang invoicing bisa coba Investree.

Ada lagi model lainnya seperti Tanifund, iGrow, Tanee. Mereka intinya bagi hasil, jadi kita invest ke lahan orang, kalau udah panen bagi hasil.

Tetapi nunggunya biasanya lama bisa tahunan, wajar karena harus nunggu panen, sedangkan yang kayak Koinworks dan Investree biasanya satu dua tahun udah selesai.

Gain : udah hampir mirip sama saham, dengan kepastian yang lebih pasti. gainnya ini variatif banget tergantung skor kredit peminjam dll

Risk : gagal bayar atau ditutup OJK (pastikan hanya berinvestasi di tempat yang sudah mendapat izin OJK)

Jangka waktu optimal : tergantung utang yang kita biayain.

Likuiditas : gak bisa dicairkan sewaktu waktu

*Tambahan: Untuk Peer Lending ini juga harus selektif kasih pinjaman ya. Untung sih untung, tapi sekali ada satu pinjaman yang gagal bayar, resikonya berasa banget, jadi ga beda jauh untungnya sama deposito.

9. Saham

Saham secara sederhana sebenarnya adalah surat yang menyatakan bahwa kita pemilik perusahaan.

Ada dua cara untuk mendapatkan keuntungan dari saham yaitu keuntungan dividen dan capital gain.

Dividen itu sebagian keuntungan perusahaan yang disepakati untuk dibagi ke setiap pemegang saham.

Misalnya ada 100 lembar saham, terus keuntungan perusahaan di tahun itu 100 juta. Nah, berdasarkan rapat umum pemegang saham disepakati keuntungan 50 juta dipakai untuk membiayai ekspansi dan 50 juta lagi dibagikan ke pemegang saham. Jadinya setiap pemegang saham dapet 500 ribu.

Biasanya yang main dividen itu investor besar, karena dividen kecil kalau mau dapet duit dari dividen biasanya sih orang pilih perusahaan yang udah gak butuh ekspansi dan industrinya udah mature. Kalau perusahaan butuh ekspansi tapi keuntungan dipakai jadi dividen yah mana bisa ekspansi.. :D

Capital gain itu intinya kita beli saham diharga lebih rendah dibanding harga kita jual, beli murah jual mahal. Ada banyak teknik untuk ini, aku bahas yang populer aja:

  • Value investing

    Intinya kita beli saham yang lagi dijual di bawah harga bukunya. Harga saham dikali jumlah saham lebih rendah dari duit yang didapet kalau misalnya semua aset perusahaan dijual.

    Misalnya saham BIRD (blue bird) lagi diangka 1000 rupiah per lembar. Semua saham BIRD ada 100 lembar. Padahal kalau semua mobil blue bird dijual harganya lebih dari 100.000 jadinya harga BIRD di pasar saham sebenarnya lagi kemurahan.

  • Growth investing

    Ini intinya kita beli saham yang perusahaannya bertumbuh dengan cepat. Tapi di sini aku lihat belum ada yang bisa grow ratusan persen kayak technology company di US sana. Kalau mau coba invest di US bisa coba pake broker namanya Drivewealth, mereka terima orang Indo.

  • Index fund investing

    Sebenarnya ini kayak reksadana tapi gak ada manajer investasinya dan isinya sekumpulan saham.

    Sejauh ini yang aku liat ada di Indonesia itu adanya index fund LQ45, jadi kalau kita beli index fund itu, kita secara gak langsung membeli semua saham di daftar LQ45.

    Index fund ini gak ada biaya jual belinya tapi di Indonesia masih sulit diperjualbelikan soalnya masih belum populer. Aku pribadi gak terlalu suka index fund soalnya saham yang termasuk di LQ-45 gak semuanya “baik” menurutku.

Cara investasi di saham tinggal ke sekuritas terus bilang mau buka rekening, biasanya mereka malah mau jemput dokumen.

Kita bisa buka rekening saham mulai dari 100 ribu. Kalau aku rekomendasiin sih pake Sinarmas Sekuritas ntar dapet tools namanya Stockbit, itu berguna banget untuk seleksi saham kalau males download satu satu laporan keuangan. Chart-nya juga bagus.

Kalau mau trading bisa pake Mirae atau Philips, interface mereka enak buat day trader. Sedangkan kalau buat yang beli sekali sebulan mah gak terlalu ngaruh interface bagus.

Gain : rule of thumb orang orang sih 20% setahun.

Risk : harga sahamnya jatuh

Jangka waktu optimal : biasa sih orang 5 tahunan(kalau investasi, kalau trading yah tergantung teknik tradingnya).

Likuiditas : tergantung sahamnya, tapi generally saham yang umum di perdagangkan lumayan gampang dicairinnya.

• • •

Terakhir, jangan lupa investasi di personal network, ketemu orang-orang baru, siapa tau ada yang punya usaha menarik terus bisa ikutan bikin usaha bareng.

Biasanya bentuk usaha seperti ini perolehannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen investasi lain. :)