The "Overthinking" Mind

SELF-DISCOVERY 2 min read

Dalam hidup yang konon singkat ini, seringkali kita disibukkan oleh pikiran-pikiran yang sebenarnya tak perlu kita pikirkan.

Salah satu pikiran yang tak perlu itu sebut saja seperti berpikir secara berlebihan atau overthinking.

Kadang tanpa kita sadari, kita dikendalikan oleh pikiran-pikiran yang sesungguhnya tidak perlu kita jadikan beban.

Seperti terlalu mengkhawatirkan masa depan, terlalu mengambil hati apa yang sedang terjadi, terlalu takut melontarkan candaan karena takut akan menyinggung perasaan orang lain, terlalu memikirkan komentar orang lain, takut gagal memuaskan orang lain, dan segala ‘terlalu-terlalu’ lainnya.

Ketika si ‘terlalu-terlalu’ ini menguasai pikiran, di sanalah pikiran berperan pesat menimbulkan kegalauan, misalnya seperti takut melangkah atau takut untuk memulai sesuatu.

Dalam video menampilkan seorang laki-laki dan perempuan yang tidak saling kenal, bertemu di sebuah taman.

Mereka duduk bersebelahan, saling lirik, saling berprasangka satu sama lain. Meskipun ada ketertarikan tapi tidak ada dari mereka yang berani ngomong duluan.

“Ah, jangan-jangan si cowok begini.. Jangan-jangan si cewek begitu..” Belum tahu apa-apa, tetapi udah mikirin banyak hal yang belum tentu benar.

Si overthinker ini memang terlalu berpusat kepada kekurang-kekurangannya, melupakan kelebihan yang ia miliki, sehingga tak tutup kemungkinan akan menimbulkan gangguan-gangguan seperti perasaan minder, sulit tidur, perubahan gaya hidup, sampai stres.

Dalam beberapa kasus, selain gangguan kejiwaan, berpikir secara berlebihan juga bisa memicu kambuhnya berbagai penyakit seperti sakit jantung, diabetes, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, jika kita termasuk orang yang sering berpikir dengan terlalu, yuk sama-sama latih diri kita untuk memilah mana yang pantas dipikirkan secara mendalam, dan mana yang tidak.

Pertama, kita harus memiliki kesadaran penuh untuk mulai melakukan perubahan cara berpikir. Sadari bahwa berpikir secara berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga kita.

Selanjutnya, hindari prasangka buruk. Jangan cepat-cepat menilai sesuatu itu buruk atau akan menghasilkan sesuatu yang buruk. Selain itu, coba ubah cara pandang kita terhadap sesuatu yang kita takutkan.

Berhenti terlalu idealis dan menuntu segala sesuatunya sempurna.

Berikutnya, jika kita ada pekerjaan jangan ditunda-tunda, tetapkan waktunya kapan harus diselesaikan. Dan sadari mana yang bisa kita capai dan mana yang tidak.

Ketika kita sudah selesai melakukan suatu tugas dan sudah mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikannya namun masih belum sempurna atau belum memenuhi standar, sadari dan terima bahwa itulah usaha terbaik yang kita mampu.

Terakhir, sesungguhnya ini adalah yang paling penting. Yaitu bersyukur.

Setiap harinya jangan lupa bersyukur, jika perlu tuliskan di kertas atau di note handphone hal-hal apa saja yang patut kita syukuri di hari ini.

Dimulai dari yang sederhana saja, seperti bersyukur masih diberikan makanan dan tempat tinggal yang layak. Bersyukur masih diberi kemudahan untuk bernapas.

Sepelik apapun masalah, yakinlah masih ada ruang atau hal yang bisa kita syukuri.

Bagi yang pernah punya pengalaman terkait berpikir secara berlebihan atau sedang terjebak di dalamnya, silakan berbagi di kolom komentar di bawah ya..

Karena berbagi pengalaman adalah jalan menuju ide-ide cemerlang berikutnya.