Cantik Itu Relatif, Tapi Charming Itu Absolut

The Y Chromosome

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan tulisan dari jurnal ilmiah yang menurut saya cukup bagus berjudul Beautiful Politicians 1.

Secara sekilas mereka ingin membuktikan apakah politisi yang beautiful (maksudnya di sini bukan cuma cantik, tapi juga ganteng ya..) lebih banyak untuk dipilih dalam sebuah ajang politik.

Karena beragam alasan demi kepentingan penelitiannya, King & Leigh memilih Australia sebagai tempat penelitian.

Hasilnya? Dalam kata-kata mereka sendiri:

Beautiful candidates are indeed more likely to be elected, with a one standard deviation increase in beauty associated with a 1½ – 2 percentage point increase in voteshare.(King & Leigh, 2009: 593) 1

Tidak terlalu besar memang, tapi di Australia dengan jumlah kandidat yang banyak dan perbedaan suara yang tipis, 1-2 persen bisa jadi sangat signifikan.

Tak hanya itu, bahkan dengan temuan lain yang lebih menarik:

… we find suggestive evidence that beauty matters more in electorates with a higher share of apathetic voters.(King & Leigh, 2009: 592) 1

Hmm… Saya jadi ingat pilpres di Indonesia tahun-tahun lalu. Beberapa media menyebut bahwa kandidat terpilih sangat disukai terutama oleh kalangan ibu-ibu, yang mempersepsikan kandidat tersebut sebagai “ganteng” dan “gagah”.

Saya juga ingat beberapa analisis komentator politik kita, bahwa perilaku pemilih kita sejatinya kebanyakan apatis. Jadi pantas lah kandidat itu bisa menang, kan?

Lalu apakah tidak adil apabila kandidat yang diberikan ketampanan atau kecantikan (kualitas yang given?) bisa mendapat suara yang lebih banyak daripada yang tidak ganteng atau cantik? 🤔

Sebenarnya, that beauty matters bukan hanya di ranah politik saja. Dari prolog tulisan ini saya juga mendapatkan kesimpulan dari penelitian-penelitian lain sebelumnya. Pertanyaan paling menarik dalam bidang ekonomi yang melibatkan penampilan fisik manusia adalah kaitan kecantikan dengan keberhasilan ekonomi individu.

Misalnya di pasar tenaga kerja Kanada dan Amerika, orang yang lebih menarik mendapat gaji lebih baik (Hamermesh & Biddle, 1994)2, termasuk untuk profesi seperti pengacara (Biddle & Hamermesh, 1998)3 dan eksekutif periklanan (Pfann et al., 2000)4. Hal ini juga ternyata berlaku untuk pasar tenaga kerja di Australia (Borland & Leigh, 2013)5 dan Inggris Raya (Harper, 2000)6.

Lha semuanya kan di negara barat, tentu tidak di timur kan? Oh tentu saja tidak, ini juga berlaku di China (Hamermesh, Meng dan Zhang, 2002)7.

Untuk menambah “ketidakadilan” itu, Mocan dan Tekin (2006)8 berpendapat bahwa orang yang kurang menarik, more likely to commit crime. *whaat!? 😱*

via GIPHY

Saya juga pernah baca, bahwa orang yang lebih tinggi mendapat rata-rata penghasilan yang lebih besar daripada rekan-rekannya yang lebih pendek, bisa Anda cari di jurnal atau artikel The Economics of Beauty.

The economics of beauty: What do we know? What should we do? — Institute of Economic Affairs
The media have been excited by two American management academics, Leah Sheppard and Stefanie Johnson, who claim to find that highly attractive women are not rated as trustworthy as less attractive women and men. The implication of much of the discussion seems to be that attractive women are discriminated against. I have doubts about this study, … Continue reading "The economics of beauty: What do we know? What should we do?"

Dunia tidak adil? Mungkin. Tapi mau gimana lagi, emang bekerjanya seperti itu. Ya setidaknya seperti yang ditunjukkan riset-riset tersebut..

Hanya saja untuk mengambil kesimpulan definitif bahwa memang benar dunia hanya baik untuk orang yang ganteng/cantik perlu melewati beberapa pemikiran terlebih dahulu.

Sebenarnya, apa itu beautiful? Apa itu ganteng atau cantik? Lupakan perdebatan tentang apakah persepsi kita tentang kegantengan/kecantikan itu konstruksi sosial atau diberikan secara alamiah.

Skripsinya Dian Sastro pada 2007, menunjukkan bahwa kecantikan adalah suatu bentuk konstruksi sosial yang melibatkan permainan politik tertentu 9.

Saya tidak tahu, yang saya tahu ialah mbak Dian menurut saya cukup cantik, entah itu karena konstruksi sosial atau memang pendapat alamiah saja. Yang jelas, riset tentang cross-cultural beauty ratings menunjukkan, dalam bahasa King & Leigh, beauty is not in the eye of the beholder.

Tapi bukankah cantik itu relatif, seperti dalih orang-orang?

Ya, bisa jadi.. Di level mikro-individual saya menilai Anya Taylor-Joy, misalnya, cukup 7, sementara Anda akan menilai 9.

Namun jika disurvei pada level makro, secara aggregat bisa kita dapatkan, misalnya nilai Anya adalah X sementara Fulanita itu Y, di mana X > Y, yang berarti @anyataylorjoy lebih cantik daripada Fulanita. Kesimpulan ini berlaku lintas budaya (Langlois et al., 2000)10.

Jadi sebenarnya cukup aman menyimpulkan pada level makro bahwa beauty is universal, tidak peduli asal-usul penilaian itu, apakah konstruksi sosial atau alamiah.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana yang beauty itu? Apakah yang simetris-proporsional? Proporsional seperti apa? Atau mengikuti pendapat Oprah sewaktu mewawancara Charlize Theron, bahwa orang cantik adalah orang yang memiliki bentuk segitiga harmonis antara kedua mata, hidung dan bibir? (sudah, sudah, tak perlu mengecek diri dan melihat cermin 😄). Atau mengikuti Pramudya, bahwa kecantikan adalah susunan tulang yang baik dengan daging yang menempel secara proporsional?

Ini bukan hasil riset, tapi opini pribadi. Saya sendiri menganggap berbeda antara “cantik”, “manis”, “cute”, “menarik/attraktif”, dan “jelita”.

Karena menyangkut perasaan, saya sulit membuat pembatasan jelas tentang kategori-kategorinya. Ada yang menurut saya cantik, tapi somehow, kok tidak menarik. Ada juga yang sebenarnya kurang cantik, tapi somehow lagi, kok ya sangat menarik. uWu.. 🥰

Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Ini berlaku untuk pria dan wanita.

Menurut saya, charming itu tidak terkait dengan kecantikan fisik. Charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita. Jadi, charming ini saya usulkan untuk mengganti istilah beautiful dalam literatur The Economics of Beauty.

Seperti ditunjukkan dalam riset, ternyata memang charming itu penting! Orang-orang charming mendapat penghasilan yang lebih besar, lebih sedikit berperilaku kriminal, dan lebih disukai untuk dipilih.

Sekarang, apakah dunia tidak adil? Sementara cantik/ganteng itu fisikal, kalau Anda mau sepakat, charm itu tidak terkait dengan fisik. Anda bisa saja ganteng, tapi belum tentu charming. Anda mungkin kurang cantik, tapi bisa jadi charming, atau bisa juga tidak. ¯\_(ツ)_/¯

Jadi, charm itu bukan kualitas yang given, tetapi kualitas yang bisa didapatkan dan bisa dipelajari. Charm terkait dengan bagaimana kita ingin menampilkan diri kita. Baik personal branding atau personal positioning, yang semuanya bisa dirancang.

Nah, kalau begitu, bukan berarti dunia itu tidak adil. Semuanya menjadi netral karena jadinya tergantung kita, mau belajar jadi charming atau tidak?

Selanjutnya, bagaimana cara menjadi charming? Untuk yang ini saya juga masih perlu banyak belajar. Mungkin orang-orang yang telah charming di luar sana tertarik menjelaskan? :)


Referensi:

  1. King, A., & Leigh, A. (2009). Beautiful Politicians. Kyklos, 62(4), 579–593. https://doi.org/10.1111/j.1467-6435.2009.00452.x ↩︎ ↩︎2 ↩︎3

  2. Hamermesh, D., & Biddle, J. (1994). Beauty and the Labor Market. The American Economic Review, 84(5), 1174-1194. Diambil 1 Agustus 2021, dari http://www.jstor.org/stable/2117767 ↩︎

  3. Biddle, J., & Hamermesh, D. (1998). Beauty, Productivity, and Discrimination: Lawyers’ Looks and Lucre. Journal of Labor Economics, 16(1), 172-201. https://dx.doi.org/10.1086/209886 ↩︎

  4. Pfann, G., Biddle, J., Hamermesh, D., & Bosman, C. M. (2000). Business success and businesses’ beauty capital. Economics Letters, 67(2), 201–207. https://doi.org/10.1016/S0165-1765(99)00255-4 ↩︎

  5. Borland, J., & Leigh, A. (2013). Unpacking the Beauty Premium: What Channels Does It Operate Through, and Has It Changed Over Time?. Economic Record, 90(288), 17–32. https://doi.org/10.1111/1475-4932.12091 ↩︎

  6. Harper, B. (2000). Beauty, Stature and the Labour Market: A British Cohort Study. Oxford Bulletin of Economics and Statistics, 62(s1), 771–800. https://doi.org/10.1111/1468-0084.0620s1771 ↩︎

  7. Hamermesh, D., Meng, X., & Zhang, J. (2002). Dress for Success – Does Primping Pay?. Labour Economics, 9(3), 361-373. https://doi.org/10.1016/S0927-5371(02)00014-3 ↩︎

  8. Mocan, N., & Tekin, Erdal. (2006). Ugly Criminals. NBER Working Paper 12019. https://doi.org/10.3386/w12019 ↩︎

  9. Sastrowardoyo, D. P. (2007). Kompleks Industri Kecantikan: Sebuah Kritik Sosio Fiosofis. Skripsi, tidak dipublikasikan. Universitas Indonesia. https://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20160023.pdf ↩︎

  10. Langlois J. H., Kalakanis L., Rubenstein A. J., Larson A., Hallam M., & Smoot M. (2000). Maxims or myths of beauty? A meta-analytic and theoretical review. Psychol Bull, 126(3), 390-423. https://doi.org/10.1037/0033-2909.126.3.390 ↩︎