Selokan Mataram, Air Mengalir Sampai Jauh

∙ 🔥 Blast From The Past 🔥

Bila kita tengok di bagian utara kampus UGM - UNY, di sana melintas selokan (saluran air) yang mengalir dari barat ke timur. Orang menyebutnya selokan Mataram.

Tak banyak yang tahu, kalau selokan tesebut telah menyelamatkan rakyat Mataram dari romusha dan kekeringan.

Awalnya, selokan Mataram dibangun dengan tujuan untuk menyelamatkan rakyat Mataram (kini Yogyakarta) dari kewajiban menjadi romusha di masa pendudukan Jepang.

Saat itu, sekitar tahun 1942, Jepang mengerahkan romusha untuk membangun Terowongan Bligo (sebuah gua persembunyian di daerah Pakem) dan sisanya dikirim ke daerah lain maupun ke luar negeri.

Biasanya, jarang yang dapat pulang lagi. Sebagian besar meninggal karena siksaan selama kerja paksa. Karena itulah, untuk menyelamatkan rakyat dan memakmurkan tanah Mataram, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mengalihkan kerja rakyat Mataram untuk membuat selokan yang menghubungkan Kali Progo di bagian barat dengan Kali Opak di bagian timur. Jepang pun tak berani mengutak-utik keputusan Sultan tersebut.

Gotong-royong

Pembuatan selokan dilakukan secara bertahap. Penggalian pertama dimulai dari Kali Progo hingga sebelah barat sungai Code Berikutnya, sekitar tahun 1953, penggalian dilanjutkan ke timur hingga Kali Opak di daerah Prambanan.

Selokan Mataram Selokan Mataram mengalirkan air dari Sungai Progo dan Sungai Opak (Inibaru.Id)

Meski penggalian dilakukan secara gotong-royong, para pekerja tetap diupah dan diberi makan siang. Upah yang diterima besarnya tiga ringgit (kini, setara dengan Rp 3000) untuk tiga minggu. Sedang makan siangnya sangat sederhana, nasi yang masih banyak kulit padinya dalam besek, diberi sayur kacang panjang asal direbus dan sepotong tempe.

Penggalian dijatah tiap kelurahan dan diawasi oleh mandor yang merangkap sebagai pemborong. Menurut Rejo Tukiman (73 th), warga Pogung Dalangan, pemborongnya dari luar Jawa. “Sampun kesupen tiyang pundi, sing jelas priyantunipun amit-amit, ireng sanget (sudah lupa orang mana, tapi orangnya sangat hitam)” tuturnya.

Selain diawasi mandor, biasanya di tiap kelurahan terdapat seinendan (semacam hansip) yang bertugas mengkoordinir warganya untuk penggalian. Lama penggalian di tiap daerah beragam. Di Pogung sendiri, lamanya sekitar tiga minggu.

Selepas penggalian selesai, pengelolaan selokan ditangani tenaga pengairan kasultanan dan diawasi langsung oleh Sri Sultan. Namun, sejak diambil alih pemerintah, selokan Mataram dikelola oleh Sub Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.

Pengelolaan yang dilakukan termasuk pula perbaikan besar-besaran pada tahun 1969-1975 atas bantuan dana dari Inggris. Perbaikan tersebut meliputi pengerasan selokan sepanjang 32 kilometer, kedalaman 2 meter dan lebar 3-5 meter, lengkap dengan pengerasan ruas jalan di sampingnya.

Menguntungkan

Aliran selokan merupakan urat nadi pasokan air bagi warga sekitar. Tidak hanya untuk irigasi lahan dan usaha perikanan darat, tapi juga untuk penyangga sumber air tanah. Karena itu, kini warga sekitar selokan tak perlu takut terancam kekeringan selama aliran selokan lancar.

Selain menopang usaha agraris dan perikanan darat, selokan juga menopang perdagangan warga. Lihat saja, ada ratusan usaha berderet sealur selokan Mataram. Mulai warung makan, kios bensin, koran dan majalah, salon, fotokopi, bengkel, hingga warung internet.

Kios selokan Mataram Kios di sepanjang aliran selokan Mataram (Adib)

Dibanding daerah lain di alur selokan Mataram, daerah Pogung, Bulaksumur, dan Karangmalang relatif lebih ramai. Selain di daerah itu berdiri kampus Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), daerah itu juga dikenal sebagai pusat pondokan mahasiswa.

Mitos Selokan

Jawa terkenal dengan mitos-mitosnya. Begitu pula tentang selokan Mataram.

Ucapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX: “Menawa Kali Progo bisa mili ngetan, Kraton Ngayogyokarto bakal nemoni rejaning jaman” (Seandainya Kali Progo bisa mengalir ke timur, Kraton Yogyakarta akan menemui masa kemakmuran) misalnya, diyakini benar oleh sebagian rakyat Mataram.

Karena percaya pada mitos itu pula, maka saat peresmian, sepanjang alur selokan Mataram dijaga ketat selama tiga hari tiga malam. Sebab bila tidak dijaga, aliran air akan habis di tengah jalan untuk mengairi sawah.

Selain mitos tersebut, ada juga cerita-cerita ‘seram’ dan sedikit mistik tentang selokan Mataram. Misalnya cerita tentang munculnya kesibukan pasar yang riuh pada malam hari di bawah jembatan yang melintasi Kali Gadjah Wong di daerah Cepit. Atau cerita tentang prajurit utusan Ratu Laut Selatan pada malam Jum’at Kliwon.

Menurut beberapa penduduk di sekitar selokan Mataram, pasukan itu bertugas menjaga keamanan tanah Mataram atas kesepakatan Ratu Laut Selatan dengan Raja Mataram. Mereka mengelilingi Mataram sambil membawa obor, melayang di atas Selokan, tanpa kepala!