LDR

Jiwa-jiwa itu ibarat sebuah pasukan kokoh. Jika saling kenal, akan bertemu. Jika tidak mengenal, akan berpisah. ~ HR. Al-Bukhari

Seandainya jarak tiada berarti Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja

Seandainya sang waktu dapat mengerti Takkan ada rindu yang terus mengganggu Kau akan kembali bersamaku

Penggalan lagu LDR yang dipopulerkan artis muda yang sedang populer itu agaknya memang mewakili sebuah kondisi hubungan antara seseorang dengan yang lainnya namun terpisah jarak dan waktu. Berat memang ya? Ketika harus berpisah jarak dan waktu dengan orang yang diperlukan keberadaannya dekat dengan kita.

Tetapi ada kondisi yang lebih parah loh sebenarnya dari LDR yang diilustrasikan dengan uraian di atas. Apa itu?

“The distance between two people is misunderstanding”.

Jarak sesungguhnya yang memisahkan hubungan komunikasi antara 2 orang itu sesungguhnya bukan jarak spasial semata tetapi ada yang lebih mendasar yaitu soal kesepahaman dan kemampuan satu dengan yang lain untuk saling memahami dan mengenal lebih dalam.

Hubungan komunikasi ini juga bisa bukan sekedar orang vs orang, melainkan juga entitas satu dengan entitas lain. Corporate dengan costumer, Management dengan employee, bisa juga antara leader dengan community…

Meski kita ketemuan terus dengan seseorang, bahkan setiap hari berjumpa namun kalau tidak ada kesepahaman dan saling memahami maka kondisinya tidak lebih baik atau bahkan justru lebih buruk dengan hubungan seseorang dengan someone yang jauh di mata tapi dekat di hati. #uhuk.

Dalam ilmu komunikasi (cie-cie lagi belajar ilmu corcom nih) bukan soal jarak yang membuat seseorang itu dekat atau tidak. Virginia Satir mengatakan komunikasi antara 2 orang itu dibangun di atas dua prinsip, yaitu take and give.

Menurut Zig Ziglar, pakar ilmu pengembangan diri terkemuka saat ini, salah satu pondasi penting kebahagiaan hidup adalah hubungan personal. Tanyalah mereka tentang apa yang bisa membuat mereka menjadi orang paling bahagia di dunia? Sebagian besar pasti akan menjawab: menjalin hubungan personal dengan orang yang dicintai. (Success for Dummiest, hal. 27).

Orang yang dicintai ini mesti kita perluas bukan sekedar pasangan hidup atau pasangan jenis semata tetapi juga orang-orang yang berarti di sekitar kita.

Dale Carnegie menunjukkan bahwa 15% kesuksesan seseorang ditentukan oleh pengetahuan teknis, sementara 85%-nya ditentukan oleh keterampilan bersosialisasi, kepribadian dan kemampuan memimpin orang lain. Sehingga kesuksesan seseorang akan diukur dari kemampuannya dalam membangun relasi dan menjalin ikatan dengan orang lain.

Relasi yang baik biasanya berangkat dari kesepahaman. Dan kesepahaman muncul karena diawali dengan kenal dengan baik.

“Jiwa-jiwa itu ibarat sebuah pasukan kokoh. Jika saling kenal, akan bertemu. Jika tidak mengenal, akan berpisah” (HR. al-Bukhari)

Jadi LDR atau tidak yang penting… saling mengerti-saling memahami.. :)

Salam.



 You May Also Like: