Mengapa Kita Jarang Bertanya di Kelas?

Jadilah seperti anak kecil yang mempunyai sejuta rasa penasaran, namun keluarkan rasa penasaran itu dengan bumbu profesionalitas

Pernahkah kita mengamati selama ini, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi saat kegiatan pembelajaran hampir semua siswa cenderung tidak mau bertanya apalagi berdiskusi. Hal ini menyebabkan suasana kelas terasa pasif. Padahal jika ditanya balik oleh guru/dosen, sebagian besar tidak bisa menjawab. Apalagi jika dites dalam ujian, semuapun panik.

Ada berbagai alasan kenapa sistem edukasi kita masih terasa pasif, atau kurangnya motivasi siswa untuk memahami materi yang disampaikan. Berbagai alasan ini ada juga yang berlatar belakang bukan karena motivasi, namun pengaruh-pengaruh luar yang menahan siswa untuk bertanya di kelas.

Beberapa alasan mengapa kita jarang bertanya di kelas:

1. Kurang persiapan

Di saat guru/dosen bertanya, “apakah ada pertanyaan?”, sebagian besar siswa memberikan tatapan kosong, dan tetap diam seolah-olah mengerti materi yang disampaikan. Alasan bagi mereka tidak tahu mau bertanya apa atau tidak tahu mau mulai dari mana adalah karena otak mereka sedang dalam proses pemahaman materi.

Seseorang harus memahami materi paling tidak sedikit dahulu sebelum mereka tahu di materi mana yang mereka tidak mengerti. Apalagi jika materi itu susah untuk dicerna, maka terus-terusan selama dalam kelas kita dalam proses memahami, dan selama itu juga kita tidak tahu apa yang tidak kita mengerti. Maka persiapan materi sebelum kelas menjadi sangat penting di dunia pendidikan.

Sebaiknya baca buku dan bahan materi terlebih dahulu sebelum guru/dosen memberikan materi tersebut dalam kelas. Sikap ini membentuk kepribadian siswa untuk membawa bekal terlebih dahulu, dengan demikian siswa mengerti apa yang tidak dimengerti, dan menanyakan hal tesebut dikelas.

“Kita harus mengetahui sesuatu terlebih dahulu, untuk bisa tahu apa yang tidak kita ketahui.”

2. Waktu kelas yang minim namun padat

Tidak jarang guru/dosen dikejar oleh materi yang banyak dalam waktu yang terbatas. Hal ini tentunya membuat siswanya tidak mendapatkan waktu untuk bertanya. Bahkan terkadang ada guru/dosen yang tidak melayani pertanyaan didalam kelas karena ingin fokus untuk menyampaikan materi, namun melayani jika itu di luar kelas.

Mau tidak mau para siswa hanya bisa pasrah mendengarkan guru/dosen berceramah. Sehingga solusinya adalah jika memang ada yang tidak dimengerti, maka temuilah guru/dosen tersebut diluar kelas, tanyakanlah sesuatu yang tidak dimengerti tersebut.

Keadaan seperti ini merupakan keadaan kritis, karena banyaknya materi yang disampaikan dalam waktu yang singkat. Sebisa mungkin selama materi disampaikan, walaupun ada waktu senggang, selalulah fokus mendengarkan dan memahami. Sebisa mungkin jangan melakukan multitasking dengan sambil mencatat. Otak kita tidak cukup mampu untuk melakukan dua hal sekaligus secara optimal.

“Fokus dengarkan guru/dosen, jangan lakukan multitasking (mendengar-mencatat), pahami sungguh-sungguh, lalu tanyakan yang tidak mengerti di luar kelas”

3. Kurang Menarik dan Bosan

Mungkin ini menjadi alasan paling banyak saat kenapa seseorang tidak aktif dengan berdiskusi di kelas, tidak tertarik dengan materi yang disampaikan. Memang tidak dapat dipungkiri lagi kalo memang diri sudah tertarik dengan sesuatu, mau bagaimanapun, tidak akan ada motivasi muncul. Tetapi sangat disayangkan jika seseorang tidak tertarik pada suatu materi yang dimana materi itu adalah materi disiplin ilmunya.

Tipsnya adalah sering-sering pelajari materi yang tidak menarik tersebut dari berbagai sumber, dan biasanya kita akan menemukan motivasi sendiri di materi tersebut.

Di satu hal lainnya walaupun seseorang tertarik dengan suatu materi, namun jika bosan mendengar bosan guru/dosen menyampaikan, motivasi untuk aktif di kelaspun menjadi turun. Faktor kebosanan ini bisa jadi dari cara menyampaikan guru/dosen yang tidak menarik, atau memang faktor diri yang memang sudah tidak sanggup lagi menyerap apa yang disampaikan.

Waktu efektif untuk dapat fokus adalah 45 menit, dan di atas itu, kita sudah susah untuk fokus. Terlalu banyak informasi yang disampaikan menyebabkan otak lelah.

“Cobalah keluar dari arena nyaman, pelajari materi yang tidak disukai dari berbagai sumber, temukan motivasimu”

4. Tidak berani, malu

Ini merupakan salah satu alasan favorit penulis, yang kadang bahkan terjadi pada penulis sendiri. Kita terlalu takut untuk bertanya karena memang pada dasarnya kita tidak berani padahal kita belum paham atau sangat penasaran akan sesuatu.

Ini dinding pertama yang biasanya dihadapi seseorang jika ingin bertanya di kelas, dan dinding itu cukup kokoh. Apalagi untuk seseorang yang introvert, seolah-olah dinding ini terbuat dari berlian yang sangat tebal. Ketidakberanian ini kebanyakan dikarenakan karena kita memang tidak biasa mengungkapkan perasaan kita di kehidupan sehari-hari, atau kita terlalu takut untuk menanyakan pertanyaan yang dianggap sepele/salah.

Jalan alternatif yang aman adalah menanyakan pada teman, karena yang pertama kita tidak akan malu dalam kelas, kedua kita lebih nyaman jika menanyakan teman dibanding dosen. Sebagian besar orang berpikir untuk lebih baik tetap di area nyaman, dibanding keluar ke area yang tidak dinyamani.

“Hancurkan dinding itu sebisa mungkin, dan puaskanlah rasa penasaranmu”

5. Minimnya rasa penasaran, dan takut menanyakan pertanyaan bodoh

Salah satu penyakit parah yang dialami akademisi sekarang adalah kurangnya rasa penasaran. Umat manusia bisa mencapai kemajuan teknologi zaman sekarang adalah dikarenakan rasa penasaran. Rasa penasaran membuka banyak jalan baru bagi kita untuk menjelajah ilmu pengetahuan lebih dalam lagi.

Namun, bisa menjadi bencana jika kita mulai kehilangan rasa penasaran terhadap ilmu, bukan hanya menjadi kurang aktif di kelas, namun jauh lebih buruk, yaitu tidak adanya perkembangan diri sama sekali.

Lihatlah anak kecil, yang mempunyai rasa penasaran yang sangat tinggi. Namun, semakin dewasa kepekaan kita untuk penasaran entah kenapa berkurang. Hal ini kemungkinan dikarenakan sistem pendidikan yang dijalani dan tekanan lingkungan yang membentuk diri kita untuk tidak terlalu banyak penasaran. Sehingga semakin kita tidak penasaran, semakin kita tidak peduli terhadap sesuatu.

Untuk membangkitkan rasa penasaran, salah satu tipsnya adalah tunjukkan antusias dan perbanyak membaca dari sumber yang berbeda.

Namun, di sisi lain tetap ada orang yang penuh akan rasa penasarannya, namun terkhusus dalam kelas, biasanya seseorang takut untuk menanyakan, karena bisa jadi pertanyaan yang ia tanyakan adalah pertanyaan yang bodoh bagi guru/dosen atau siswa-siswa sekitar. Ya memang, tidak ada yang menyukai pertanyaan bodoh, itu hanya buang-buang waktu, ditambah penanya akan kelihatan tambah bodoh.

Ada cara bagaimana memastikan pertanyaan kita bukanlah pertanyaan yang bodoh. Pertama, yaitu pada poin 1, pastikan kita sudah memahami sebagian materi, semakin paham, maka pertanyaan yang dikeluarkan akan semakin berbobot.

Walaupun pernyataan ini sedikit paradoks, namun sebagian besar kenyataannya memang begitu. Kedua, pikir kedua kali sebelum menanyakan, dan susun kalimat pertanyaan dengan baik dan benar. Ketiga, pastikan pertanyaan itu pertanyaan yang berfokus pada satu hal. Sedikit latihan mengikuti ketiga aturan tersebut, maka kita akan menjadi siswa yang brilian.

“Jadilah seperti anak kecil yang mempunyai sejuta rasa penasaran, namun keluarkan rasa penasaran itu dengan bumbu profesionalitas”

6. Sistem pendidikan yang kurang interaktif

Seorang guru/dosen harus mampu meningkatkan tingkat partisipasi dan keterlibatan siswa dalam kelas. Ada pepatah yang mengatakan “Beritahu aku, maka aku akan lupa. Perlihatkan aku, maka aku akan ingat. Libatkan aku, maka aku akan mengerti.” Namun tidak terlalu banyak guru/dosen yang memperhatikan keadaan ini.

Karena seharusnya guru/dosen harus mampu membuat lingkungan yang nyaman untuk siswanya mengekspresikan dirinya dalam kelas, bukan hanya sekedar menjalankan tugas untuk menyampaikan materi. Sikap ini lama kelamaan membentuk sistem pendidikan yang satu arah. Disini saya tidak menggeneralisasi guru/dosen, karena masih banyak juga dari mereka yang mampu membuat suasana kelas yang interaktif.

Memberikan pendidikan juga berarti mampu untuk memotivasi dan meinspirasi siswanya. Keterampilan seperti ini sangat berguna dalam dunia pendidikan, karena siswa butuh seperti tindakan seperti itu sebagai pemicu awal ketertarikannya terhadap subjek suatu materi. Ketidakpandaian menyampaikan materi yang baik oleh guru/dosen juga menjadi faktor mengapa siswa begitu cenderung untuk bosan dan mudah tidak tertarik, walaupun itu salah satu ilmu favoritnya.

“Buat guru/dosen mu mengajar dengan interaktif”

7. Kayanya internet

Pemuda zaman ini sudah mulai banyak diisi oleh pemuda generasi Z, sesuai dengan teori generasi. Para pemuda generasi tersebut lebih dekat ke teknologi dibanding kehidupan sosial nyata. Kecondongan dan kebergantungan ke teknologi tentunya membangun mental seseorang tersebut ke arah ketergantungan teknologi tersebut. Mereka mungkin merasa bahwa kebanyakan permasalahan dan jawabannya dapat dicari di Internet.

Dengan kayanya informasi dan berjuta wadah dalam memukakan pendapat dalam internet maka pernyataan tersebut dapat dikatakan benar. Namun yang ditakutkan disini adalah berkurangnya suasana diskusi yang interaktif dalam kampus. Hal ini menjadi ancaman yang nyata dalam dunia pendidikan perguruan tinggi. Tentunya, orang yang sadar dan paham harus mampu menghidupkan suasana diskusi dalam dunia pendidikan perguruan tinggi kembali.

“Seimbangkan!”

8. Pluralistic Ignorance

Istilah Pluralistic Ignorance pertama kali digunakan untuk menjelaskan ketidaksesuain antara perilaku suatu kelompok dengan keyakinan pribadi. Maksudnya adalah suatu keadaan dimana sebagian besar orang dalam kelompok menolak suatu hal tertentu. Namun, setiap dari mereka berasumsi bahwa orang lain menerima hal tersebut, tetapi dia merasa hanya dia sendirilah yang menolak. Sehingga mereka membiarkan hal tersebut begitu saja.

Contohnya dalam dunia pendidikan, misalkan sebagian besar siswa tidak mengerti materi dalam kelas. Namun, setiap dari mereka tidak berani bertanya karena mereka masing-masing menganggap diri merekalah yang hanya tidak mengerti, sedangkan yang lain sudah mengerti. Jadi mereka memutuskan untuk tetap diam daripada malu atau menganggu kelas. Ironi, keadaan ini berlanjut dalam sebagian besar tidak mengerti sama sekali.

“Jangan berprasangka yang tidak ada dasarnya. Jika memang tidak mengerti, angkat tanganmu”

9. Tekanan Sosial (Peer Pressure)

Penulis menaruh yang terbaik di akhir. Ini terjadi dimana saja, kapan saja, dan hampir di semua orang. Kita terlalu menaruh perhatian bagaimana orang memandang kita. Tetapi pandangan orang bagi sebagian besar orang sangatlah penting, karena dia hanya tidak ingin berbeda dan terpisah dari orang lain. Bahkan didalam kelas, kita terlalu melihat suasana dan sekitar untuk bisa bertanya di saat semua orang bisa menerima.

Terutama terhadap teman, kita seberusaha mungkin untuk tetap berada dalam satu frekuensi dengan mereka. Kita hanya tidak mau untuk menjadi lebih superior atau jagoan dihadapan mereka. Seorang pernah bercerita “Ekspresi wajah semua orang saat saya bertanya terkadang membuat kelas menjadi merasa tidak nyaman”.

Rasa tidak nyaman inilah yang mejadi penyebab utama untuk mengurunkan niat bertanya. Padahal terkadang pemahaman lebih penting daripada menjaga suasana yang sebenarnya tidak terlalu berefek apa-apa.

“Pikirkan efek jangka panjangmu walaupun itu mengorbankan jangka pendekmu.”


Source:



 You May Also Like: