Mengapa Kita Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Diperlukan?

Belum akhir bulan tapi duit udah mepet.

Akhir bulan juga belum, duit udah mepet. Pas diitung-itung kok ya abisnya ama yang enggak perlu-perlu. Sering kejadian kayak gini? Selidik punya selidik, ini dia beberapa alesan kenapa yang kayak gini sering kejadian:

1. Menggantungkan sense of security pada kepemilikan benda.

Logikanya gini: misalkan kepemilikan benda-benda tertentu bikin kita ngerasa aman (rumah, pakaian, kendaraan, atau benda-benda lainnya), kalo punya lebih pasti akan lebih aman lagi. Tapi apa iya? Setelah kebutuhan dasar kita terpenuhi, benda-benda tersebut akhirnya kadaluwarsa lebih cepat dari yang kita sadari.

2. Mencari kebahagiaan melalui membeli benda-benda tertentu.

Gak ada yang bakal ngaku kalau mereka nyari kebahagiaan dalam bentuk materi, walaupun pada kenyataanya sadar gak sadar, sering kejadian gitu sih. Kita beli sepatu mahal-mahal, handphone terkini, tas dan baju branded, misalnya, terus berharap kita akan jadi lebih bahagia karena itu. Sayangnya, sebenarnya kebahagiaan yang berasal dari spending berlebih itu, sebaik-baiknya hanya sementara, namanya juga alam kebendaan cuy; begitu ada yg baru lagi, yang kemaren berkurang nilainya.

3. Gampang kepengaruh iklan.

Rata-rata, kita lihat +/- 5.000 iklan setiap hari, bahkan mungkin lebih. Setiap iklan pesannya sama: hidup lo akan lebih baik jika lo beli produk kita. Terus pesan ini berulang-ulang kita denger di mana-mana mulai dr TV-Internet-radio, koran, spanduk, poster, dan lain-lain. Akibatnya, secara gak sadar, lama-lama kita jadi percaya. Bukan maksudnya ngejelek-jelekin industri advertising ya, tapi ya ngingetin aja, bahwa pesan-pesan iklan ini, bisa mempengaruhi kita lebih dari yang kita sadari loh.

4. Pengen pamer buat bikin orang lain terkesan.

Dalam masyarakat yang kaya, kecemburuan dapat secara efektif menjadi kekuatan untuk mendorong kegiatan ekonomi. Setelah semua kebutuhan dasar kita telah dipenuhi, konsumsi harus menjadi sesuatu yang lebih dari kebutuhan.Ini menjadi kesempatan untuk memamerkan kekayaan kita, sebetapa pentingnya kita, serta kesuksesan finansial kita ke seluruh dunia.

5. Kita gak suka perubahan

Ada dua faktor yang menjadi penyebab resistensi manusia terhadap perubahan. Yang pertama kebiasaan, yaitu melakukan hal yang sama berulang-ulang. Kebiasaan membeli bisa netep bahkan ketika kebutuhan atau preferensi berubah. Di salah satu experimen ilmiah mengenai “kebiasaan” ini, satu kelompok peserta diberi popcorn segar dan lain popcorn dikasih yang basi sebelum mereka nonton film. Ternyata, mereka yang udah punya kebiasaan makan popcorn, mau basi mau enggak, tetep aja dimakan popcornnya (yaelah nyet). Sementara mereka yang gak punya kebiasaan makan popcorn ya memilih untuk enggak makan. Dalam konteks beli-beli’an yang enggak perlu, lets say lo punya kebiasaan untuk “pokoknya beli sesuatu” be it pas baru gajian, atau pas ke mall, atau yang lain-lain, selamat ye..

Tipe kedua resistensi terhadap perubahan adalah.. (jengjeeeng!) kemalasan. Yang gini-gini niih, bisa jadi keuntungan buat perusahaan-perusahaan penyedia jasa. Kayak misalnya males baca fine print di provider kartu telepon, kalo quota internet udah abis, nyadar gak kemana itu biaya on-line an dicharge? Duerr, langsung dari pulsa kan? Akibatnya pas akhir tahun (apalagi yg pake paska bayar ya) bayarnya naujubile… Ini baru salah satu contoh simple aja loh, benernya masih ada lagi sih.. ( cuma gw males nyarinya)

6. Kita berusaha untuk mengkompensasi kekurangan kita.

Seringkali, kita menggantungkan kepercayaan diri kita pada benda-benda yang kita miliki; pakaian yang kita pakai, mobil yang kita kendarai, gadget terkini, dan lain-lain.

Ketika kita melakukan hal tersebut, tanpa kita sadari hal tersebut merupakan upaya untuk mengatasi kekosongan, kesepian, atau sakit hati melalui kepemilikan dari barang-barang yang,mungkin bila kita pikirin lebih seksama, enggak perlu-perlu amat. Seakan-akan kita mencari pemenuhan diri melalui hal - hal yang sifatnya materialistik.Namun kegiatan ini tidak akan pernah sepenuhnya memenuhi kekurangan kita. Sering kali, hal-hal tersebut malah menjauhkan kita dari sadar akan akar dari permasalahan utamanya.

7. Kita memiliki kecenderungan untuk lebih rakus dari yang kita sadari

Susah sih, untuk ngaku bahwa jiwa manusia memiliki bawaan untuk cenderung egois dan serakah, namun kemudian kita menggunakan sejarah untuk membuat argumen yang kuat bagi kita. Kita berusaha untuk menumbuhkan “kerajaan” kecil kita dengan mengumpulkan lebih banyak dan lebih banyak dan lebih banyak hal, dan ada semacam kebanggan kalau punya lebih dari orang lain. Secara luas, hal ini telah dicapai sepanjang sejarah dengan kekerasan, paksaan, ketidakjujuran, dan bahkan peperangan. Sayangnya, rasa egois dan tamak terus muncul di dunia dan kehidupan kita, bahkan sampai hari ini.

Nah, yang diatas tadi, bisa bener, bisa enggak juga sih. Kalau tertarik untuk mendiskusikan ini lebih lanjut, monggo loh guys! Cheers! Tulisan ini juga pernah saya posting di grup facebook Yogyakarta Low End Living



 You May Also Like: