Disleksia

Anak disleksia hanya kehilangan huruf, bukan masa depan.

Apa kesamaan antara Alexander Graham Bell, Albert Einstein, dan Leonardo da Vinci? Selain sama-sama merupakan salah satu figur paling terkenal dalam sejarah dan ilmu pengetahuan, mereka semua juga sama-sama menunjukkan tanda-tanda menderita disleksia 1.

Banyak orang yang menganggap bahwa disleksia dapat memengaruhi tingkat inteligensi atau kecerdasan penderitanya, tapi anggapan ini tidaklah benar. Anak dengan tingkat kecerdasan baik rendah maupun tinggi, bisa menderita disleksia 2. Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca-tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun 3. Disleksia seringkali dianggap sebagai gangguan pada kemampuan membaca, kondisi ini juga meliputi ketidakmampuan dalam menulis dengan baik. Dengan kata lain, disleksia telah dianggap sebagai sebuah gangguan pada kemampuan belajar, bukan hanya dalam membaca.

Disleksia sudah ada sejak waktu yang lama dan sangat umum ditemui di masyarakat. Bahkan, di Amerika Serikat, sekitar 80% dari mereka yang tidak dapat membaca dengan baik dipercayai menderita disleksia. Selain itu, perbedaan etnis, jenis kelamin, dan latar belakang sosioekonomi tidak berpengaruh terhadap kondisi ini.

Meskipun telah terdapat berbagai riset dan penelitian tentang disleksia, masih banyak orang yang tidak memahami kondisi tersebut dengan baik. Berlawanan dengan kepercayaan populer, disleksia bukanlah sebuah tahapan belajar yang dialami oleh anak pada usia tertentu. Disleksia adalah sebuah kondisi seumur hidup, dan bisa menjadi sangat parah. Namun kini telah ada beberapa metode perawatan yang sangat efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penyebab Umum Disleksia

Penyebab disleksia belum diketahui secara pasti. Para pakar menduga faktor keturunan atau genetika berperan di balik gangguan belajar ini. Seorang anak memiliki risiko menderita disleksia jika orang tuanya menderita gangguan yang sama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki anggota keluarga atau kerabat yang memiliki disleksia, memiliki resiko lebih besar untuk mengalami kondisi tersebut. Sementara itu, beberapa ahli meyakini bahwa mereka yang menderita disleksia tidak menggunakan bagian otak kiri mereka, bagian yang mengatur kemampuan mengeja dan membaca, dengan semestinya.

Banyak orang percaya bahwa para penderita disleksia memiliki masalah dalam mengolah fonem, divisi terkecil dari suara ketika sebuah kata diucapkan. Membaca dan menulis menjadi kegiatan yang sulit untuk dilakukan karena otak harus merangkai huruf untuk membentuk kata, kemudian kalimat, atau paragraf untuk menjelaskan maksud mereka secara tepat.

Gejala Disleksia

Gejala-gejala dalam disleksia sangat bervariasi dan umumnya tidak sama untuk tiap penderita sehingga sulit dikenali, terutama sebelum sang anak memasuki usia sekolah. Ada beberapa gen keturunan yang dianggap dapat memengaruhi perkembangan otak yang mengendalikan fonologi, yaitu kemampuan dan ketelitian dalam memahami suara atau bahasa lisan. Misalnya membedakan kata “paku” dengan kata “palu”.

Selain masalah pada kepekaan fonologi, gejala disleksia juga bisa berupa hal-hal berikut:

  • Kurang memori verbal untuk mengingat urutan informasi secara lisan dalam jangka waktu singkat, semacam perintah singkat seperti menaruh tas dan kemudian mencuci tangan.
  • Kesulitan dalam mengurutkan dan mengucapkan sesuatu dalam kata-kata, misalnya urutan angka, menamai warna-warna, atau benda.
  • Kesulitan memroses informasi lisan, misalnya saat mencatat nomor telepon atau didikte.
  • Pada balita, disleksia dapat dikenali melalui perkembangan bicara yang lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya dan membutuhkan waktu lama untuk belajar kata baru. Misalnya keliru menyebut kata “ibu” menjadi kata “ubi”. Kesulitan menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan diri dan kurang memahami kata-kata yang memiliki rima.

Indikasi disleksia biasa akan lebih jelas ketika anak mulai belajar membaca dan menulis di sekolah. Anak Anda akan mengalami beberapa kesulitan seperti:

  • Sulit memroses dan memahami apa yang didengarnya.
  • Lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad.
  • Sering salah atau terlalu pelan saat membaca.
  • Sulit mengingat urutan, misalnya urutan abjad atau nama hari.
  • Sulit mengeja, misalnya huruf “d” sering tertukar dengan huruf “b”.
  • Cara baca yang terbata-bata atau sering salah.
  • Kesulitan mengucapkan kata yang baru dikenal.
  • Lamban dalam menulis, misalnya saat didikte atau menyalin tulisan.
  • Memiliki kepekaan fonologi yang rendah.

Karena sulit dikenali, gejala-gejala disleksia juga ada yang baru disadari setelah penderita beranjak remaja bahkan dewasa. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kesulitan membaca dan mengeja.
  • Kesulitan menyalin catatan serta membuat karya tulis, misalnya makalah atau laporan.
  • Sering tidak memahami lelucon atau makna bahasa kiasan, misalnya istilah “otak encer” yang berarti pintar.
  • Kesulitan untuk mengatur waktu, misalnya tenggat waktu dalam tugas.
  • Kesulitan mengingat hal-hal yang berurutan, misalnya nomor telepon.
  • Cenderung menghindari kegiatan membaca dan menulis.
  • Kesulitan berhitung.

Jika Anda mencemaskan perkembangan kemampuan membaca dan menulis anak Anda yang terasa lambat, hubungilah dokter. Terutama jika Anda mengenali gejala-gejala disleksia lain yang dialami anak Anda.

Diagnosis dan Penanganan Anak Disleksia

Sebelum ke dokter atau spesialis, Anda sebaiknya mencari tahu tentang kelebihan serta kekurangan dalam kemampuan anak lebih dulu. Proses ini dapat dilakukan melalui permainan, misalnya puzzle gambar. Jika memungkinkan, Anda juga dapat meminta bantuan dari guru sekolah seperti meminta guru untuk memberikan program remedial.

Disleksia cenderung sulit untuk dideteksi karena gejalanya yang beragam. Diagnosis gangguan ini membutuhkan penilaian dari banyak faktor. Di antaranya:

  • Riwayat, perkembangan, pendidikan, dan kesehatan anak.
  • Keadaan di rumah.
  • Pengisian kuesioner oleh anggota keluarga serta guru sekolah.
  • Tes untuk memeriksa kemampuan memahami informasi, membaca, memori, dan bahasa anak.
  • Pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan neurologi anak untuk menghapus kemungkinan adanya penyakit atau gangguan lain yang menyebabkan gejala-gejala yang dialami.
  • Tes psikologi untuk memahami kondisi kejiwaan anak dan menghapus kemungkinan adanya gangguan interaksi, kecemasan, atau depresi yang dapat memengaruhi kemampuannya.
  • Setelah hasil diagnosis disleksia sudah pasti, dokter akan menganjurkan penanganan yang sebaiknya dijalani. Disleksia memang tidak bisa disembuhkan, tapi pendeteksian dan penanganan dini terbukti sangat membantu dalam meningkatkan kemampuan penderita, khususnya membaca.

Salah satu bentuk penanganan yang dapat membantu penderita disleksia adalah pendekatan dan bantuan edukasi yang lebih. Penentuan jenis intervensi yang cocok biasanya tergantung pada tingkat keparahan serta hasil tes psikologi penderita.

Bagi penderita disleksia anak-anak, penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi paling efektif jika diberikan sebelum anak mencapai usia delapan tahun. Jenis intervensi yang paling membantu dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis adalah intervensi yang berfokus pada kemampuan fonologi. Intervensi ini biasanya disebut fonik.

Penderita disleksia juga akan diajari elemen-elemen dasar seperti belajar mengenali fonem atau satuan bunyi terkecil dalam kata-kata, memahami huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut, memahami apa yang dibaca, membaca bersuara, dan membangun kosakata.

Selain dengan intervensi edukasi, orang tua juga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan anak. Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membacakan buku yang menarik minat anak. Kegiatan ini dapat Anda lakukan lebih dari sekali agar anak dapat terbiasa dengan teks dalam buku. Menyemangati dan membujuk anak untuk membaca buku, lalu mendiskusikan isinya bersama-sama akan berguna.

Orang tua juga dianjurkan untuk tidak mencela saat anak melakukan kesalahan dalam membaca sehingga kepercayaan diri anak juga dapat dibangun.

Intervensi edukasi tidak hanya berguna bagi penderita disleksia anak-anak, tapi juga untuk penderita remaja dan dewasa dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis mereka. Di samping itu, melibatkan bantuan teknologi seperti program komputer dengan perangkat lunak pengenalan suara juga umumnya dapat bermanfaat.

Penanganan disleksia membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Karena itu, keluarga serta penderita dianjurkan untuk bersabar menjalaninya. Dukungan serta bantuan dari anggota keluarga serta teman dekat akan sangat membantu.

Metode Belajar Anak Disleksia

Baca lebih lanjut tentang Metode Belajar Anak Disleksia


Referensi



 You May Also Like: